Profil Pendamping Beastudi Etos Surabaya 2011-Sekarang

PENDAMPING IKHWAN

1. Widodo

Adanya masanya dalam kasih sayang kita.

Saling bersimbiosis mutualisme, lekat bak kayu dan api.

Saling menyala dan menghangatkan suasana.

Tetapi jangan terlambat menyadari.

Tiada yang tersisa dari api dan kayu kecuali debu dan abu.

 

Dalam ukhwah terkadang kita sangat akrab.

Bagai ikatan awan dan hujan.

Menghias langit,menyuburkan bumi dan melukis pelangi.

Tetapi harus tersadari hakikatnya ikatan itu saling meniadai.

 

Saatnya kembali pada iman yang menerang hati.

Saatnya kembali pada amal yang sholeh.

Saatnya kembali pada akhlaq yang manis dan wangi.

Hingga kita mengenal diri kita sebagai muslim yang sempurna.

Mengenal orang dengan yakin bahwa mereka saudara kita.

Menjadi makluk dalam wujud manusai dengan dibekali kemampuan cipta, rasa dan karsa adalah karunia yang harus disyukuri. Terlebih hidayah Iman dan Islam itu bersemayam dalam diri. Adanya kesempatan waktu yang diberikan Alloh semoga termanfaatkan  setiap detiknya dengan kemanfaatan dan amal kebaikan. Setiap saat semoga ada kontribusi yang bisa diberikan. Setiap saat semoga ada suasana untuk belajar. Setiap saat semoga ada suasana saling mengingatkan. Dan akhirnya itu semua terjawab sebagai “ Pendamping Asrama Beastudi Etos Surabaya”

Sedikit berlebihan, tetapi itulah perasaan yang membanggakan berada ditengah orang-orang hebat dan calon orang-orang sukses yaitu ETOSER. Terlahir disebuah desa yang terpencil di kabupaten Wonogiri menjadikan  dia yakin bahwa kontribusi tidak mengenal dari mana orang berasal. Melanjutkan studi Sekolah Menengah Atas  di sekolah Islam MAN Kembangsawit Madiun menjadikan pelajaran tersendiri bagi dia bahwa sekolah dengan label keislaman bukanlah jaminan Islamnya para siswanya. Meskipun demikian ada pelajaran berharga bagi dia bahwa di manapun menuntut ilmu asal ada kesungguhan dan usaha serta doa pasti ada jalan untuk mencapai apa yangdiinginkan. Sembari bersekolah formal , Pondok Pesantren Al Karimah pernah menjadi tempat hidup dia selama 3 tahun. Hanya 3 tahun di pesantren, tiada seberapa yang dia dapatkan. Ini menjadikan pelajaran bagi dia bahwa Ilmu Alloh sangat Agung. Benar, kalau air laut jadi tintanya dan daun jadi kertasnya maka tak akan  cukup untuk menuliskannya. Janjang pendidikan Strata 1 yang telah tersandang sekaligus alumni Fisika ITS Surabaya, Namun belum dia temukan kontribusi yang inline sesuai dengan bidangnya atau memang inilah jalan dia saat ini.

Dia lewati manis dan indahnya menjadi Ketua OSIS semasa SMA, Manis dan indahnya ukhwah dalam Kajian Jurusan Fisika (FOSIF), Manis dan Indahnya dalam suasana kontribusi di dakwah kampus (JMMI), Kuatnya ikatan persaudaraan dalam himpunan mahasiswa (HIMASIKA) dan Indahnya dekapan ukhwah dan pembinaan di Pesantren Mahasiswa SDM IPTEK. Dia adalah Widodo .

2. Mahendra Setya Hantoro

Salam Cinta dan Persaudaraan…

“ Karena putih adalah kesucian dan kebeningan hati”

“ Karena hari ini adalah hari PAHLAWAN..

*Hari yang bukan hanya berbicara masalah nasionalisme atau patriotism, namun kental dengan semangat kebangsaan Aqidah Islamiyah*

Pemuda ini adalah putra daerah kota Ponorogo,Kota yang tekenal dengan budaya reog. Terletak di provinsi Jawa timur bagian barat. Di bumi reog inilah pemuda ini dilahirkan tepat 45 tahun pasca kemerdekan pada bulan oktober di tanggal 30. Sebuah kebanggaan yang senatiasa dirasakan, Takdir Allah yang menghadirkannya ditengah keluarga yang sederhana yang berdomisili di daerah pedesaan yang tenang dan sarat akan kegotong royongan. Keluarga mahasiswa yang aktif dalam organisasi kedaerahan ponorgo (KMPPS) ini berjumlah 4 orang, kebetulan beliau adalah putra pertama dari 2 bersaudara. Saat ini orang tuanya aktif sebagai wiraswasta di bidang pemasangan sambungan daya listrik kerumah penduduk.

Mulai dari kecil, pemuda ini belajar mengembara, masa studi tingkat Taman Kanak – Kanak sampai Sekolah Menengah Pertama ditempuh  dalam waktu 10 tahun. Jarak yang tidak terlalu jauh,kurang lebih 4 km, dia tempuh dengan jalan kaki. Rutinitasnya belajar dan keaktifannya disekolah membuat pria ini banyak berkecimpung di organisasi PRAMUKA dan  OSIS. Hingga pada tahun ketiga di SMP, seorang guru IPA merekomendasikan untuk ikut pembinaan intensif setiap jam 06.00 pagi guna dipersiapkan perlombaan IPA tingkat lokal dan nasional. Dan hasil yang signifikan, torehan juara berhasil didapatkan.

Pada usia ke 17, beliau mendapatkan amanah untuk menjadi ketua OSIS di SMAnya, Sekolah Menengah Analis Kesehatan, Kediri. Bertepatan dengan itu pula, dia harus menjadi duta Kartono dan Kartini pada peringatan di lingkungan sekolahnya. Masa remaja yang penuh kenangan.

Saat ini, pria yang tercatat menjadi Mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan UNAIR ini tengah menempuh semester yang ke VII. Beberapa pengalaman organisasi yang diikutinya adalah Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), Badan Eksekutif Mahasiswa tingkat Fakultas (BEM FKH) dan tingkat Universitas(BEM Unair)  dan beliau saat ini juga aktif sebagai Dewan Pertimbangan Organisasi Jamaah Muslim Veteriner FKH Unair.

Seiring dengan  pengalaman organisasi yang telah didapatkannya, dia tidak ingin ketinggalan berkarya. Dia bercita – cita menjadi seorang pengusaha dan politisi. Kedua impian ini termotivasi dari sebuah sindiran dimana seorang politisi itu pasti jahat dan sering korupsi. “Mantan Ketua KAMMI Airlangga ini menegaskan bahwa image politisi harus berubah, boleh jadi mereka(politisi)yang ada saat ini tidak pernah memegang atau menikmati uang banyak, Akhirnya mereka korupsi. Namun dengan bekal keimanan yang kuat,  isnyAllah perbuatan baik akan dijaga jalannya.” Tambahnya. Inilah sekilas profil singkat salah satu pendamping ETOS Surabaya. Semoga bermanfaat.