Triyono

Triyono


Le, sekolaho sing dhuwur ben iso njunjung jenenge wong tuwo …

Judul di atas artinya yaitu “Nak, sekolahlah yang tinggi, biar bisa mengangkat nama orang tua”. Itulah kalimat yang sering aku dengar dari kakak – kakakku dan dari ayah ibuku. Memang, keadaan ekonomi keluargaku berada di bawah keluarga yang lain di desa saya yang kebanyakan berpunya. Belum lagi hutang di mana – mana, baik di bank maupun kepada orang lain. Hutang itu seakan tidak mau pergi dari keluargku. Atau, jikalau mau pergi, tapi ia berjalan sangat lambat, lebih lambat dari pada penambahannya. Hal itu tentu sangat memberatkan bagi semua anggota keluargaku. Hal itu sudah terjadi sejak lama, sejak aku kecil. Jadi aku dibesarkan dalam keadaan yang seperti itu. Tapi di balik semua itu, aku bisa merasakan betapa nikmatnya apabila mendapatkan rezeki yang diberikan Allah kepada keluargaku, betapa nikmatnya makanan yang hanya dengan lauk daun singkong ditambah tempe goreng plus sambal.

Banyak sekali pertengkaran yang terjadi di dalam keluargaku dikarenakan masalah keuangan, bahkan sampai mengalirkan air mata. Tapi itulah episode yang harus kami jalani saat ini. Dengan memohon kesabaran kepada Allah, semoga kami dijadikan sebagai hamba-Nya yang senantiasa taat dan patuh kepada-Nya serta mensyukuri nikmat yang dianugerahkan-Nya.

Sekarang ini aku bernama Triyono, sebelumnya ketika di TK namaku Triyanto, dan sebelumnya lagi ketika aku belum sekolah namaku adalah Fitri Purnomo. Orang – orang di desaku mengenalku dengan nama kecilku itu. Jadi jika ada yang mencariku sekarang ini di desaku dengan nama Triyono, maka pasti ia akan ditunjukkan kepada orang lain.

Aku dilahirkan pada hari Rabu (sepertinya begitu), pada tanggal 3 Juni 1987, di dukuh Pundung desa Tanjungrejo. Aku adalah anak ke delapan dari delapan bersaudara. Pada waktu kecil aku dirawat oleh kakak – kakakku,  bermain, pergi kesawah, makan, dan lain – lain, aku jalani bersama kakakku. Ini bukan karena ayah atau ibuku tidak ada di rumah. Tapi entahlah, aku tidak tahu kenapa bisa terjadi hal seperti itu. Jadi aku lebih ingat kenangan bersama kakak – kakakku dari pada kenangan bersama ayah atau ibuku.

Kakak – kakakku semuanya hanya lulus SD, meskipun setelah beberapa tahun lamanya mereka ada yang melanjutkan ke kejar paket B, tapi di antara mereka ada dua yang melanjutkan ke SMP, jadi tidak semua hanya lulus SD😀. Kakakku yang pertama, ia kursus menjahit selama kurang lebih satu tahun mungkin, saya lupa. Kemudian ia menjadi karyawan di suatu toko dekat pasar. Tentu saja ia bekerja sebagai penjahit. Dan sampai sekarang ia bekerja sebagai penjahit di rumah. Kakakku yang lain, setelah lulus SD, ada yang langsung merantau ikut bersama orang lain. Yang ada dibenaknya adalah “bagaimana supaya aku cepat bekerja dan kemudian bisa membelikan baju untuk adik – adikkuk ketika di hari raya nanti. Kesedihan akan berpisah dengan adik – adikku memang terasa sangat berat, tapi jika aku tidak pergi bagaimana nasib adikku nanti.”. Waktu pun terus berjalan tiba saatnya aku untuk bersekolah.

Bu, aku sekolah TK …

Aku sekolah di TK katanya kurang dari satu tahun, habis itu aku langsung sekolah SD. Ketika di TK, tidak banyak yang aku ingat saat ini. Tapi di masa – masa itu, aku mendapatkan teman – teman yang baik padaku, tapi juga ada teman yang tidak suka padaku. Pada masa TK ini, dalam keseharianku, aku tetap saja pergi ke sawah atau ladang bersama kakakku. Mencari rumput untuk kambing. Kadang kambingnya juga diajak ke untuk cari rumput sendiri. Kami biasanya cari rumput siang hari sampai sore. Kemudian disambung besok lagi. Pada saat salah satu kakakku pulang dari rantauan, pasti aku dibelikan baju baru, lalu di ajak ke pasar ke studio foto. Lalu jalan – jalan. Betapa indahnya kenangan pada masa itu.

Aku juga diajari menari oleh kakakku.  Biasanya kalau ada panggung gembira tujuh belasan, aku muncul di sana. Wah, aku dikenal oleh banyak orang karena itu. Bahkan sampai sekarang, orang yang jarang bertemu denganku, kemudian bertemu, ia akan mengenalku karena aku dulu adalah seorang penari cilik itu.

Wah, aku sekolah SD !

Usiaku semakin bertambah, sudah saatnya aku untuk melanjutkan ke SD. Aku adalah anak susah belajar tapi suka jajan dan tidak suka makan. Jadi wajar saja, prestasiku di awal masuk SD berada  di belakang. Tapi alhamdulillah, aku bisa naik kelas terus. Salah satu kakakku, entah kenapa, aku juga tidak tahu, ia suka marah – marah kepada adik – adiknya. Setiap hari, ya mungkin bisa dibilang begitu, tiada hari tanpa menangis bagiku. Selalu saja ada hal yang membuat aku dimarahi. Makan, aku harus dipaksa. Tidur juga dipaksa. Mau tidur saja, kalau sudah jam sembilan lebih tapi aku masih terjaga, aku akan dimarahi, dimarahinya tidak dengan teriak – teriak tapi aku langsung dicubit keras sekali, lalu menangislah aku. Begitu terus setiap harinya.

Pada saat di SD, aku dan dua kakakku sama – sama juga di SD, kami bertiga di sekolah yang sama. Masalah biasa muncul yaitu ketika membayar SPP. Dulu uang seratus rupiah bernilai besar sekali jadi sangat berharga bagi keluargaku. Isak tangis pasti tidak bisa dihindarkan dari kami pada saat pembayaran SPP. Begitu itu terjadi setiap bulannya. Lalu bagaimana dengan uang sakunya? Tak ada uang untuk uang saku, kalau ada pasti jarang – jarang. Yah, memang begitulah keadaanku pada saat itu.

Sampai di kelas tiga, prestasiku tidak pernah  bagus, nilaiku jelek – jelek untuk semua mata pelajaran. Pada saat akhir ujian cawu, itu adalah masa – masa menakutkan buatku. Karena jika aku mendapatkan nilai jelek, pasti aku akan dimarahi. Dan memang benar, hal itu terjadi. Hasil ujianku tidak ada yang bagus. Kertas ujian dibagikan. Aku simpan dirumah, tapi ketahuan oleh kakakku yang sering marah – marah tadi, sehingga kertas ujianku tadi disobek – sobek. Kakakku itu marah luar biasa. Pada saat merobek kertas ujianku itu, aku saat bermain di luar rumah. Nah, pada saat aku pulang, tidak ada lagi yang aku lakukan selain menangis, aku dipukuli, dimarahi, terus diapakan lagi aku lupa.

Ketika beranjak ke kelas empat, prestasiku membaik, aku mulai mendapatkan rangking sepuluh besar. Bersamaan dengan itu, kakakku yang suka marah tadi pergi merantau ikut bersama orang lain. Uh, akhirnya …, aku bisa bebas. Ketika di kelas lima prestasiku tambah baik saja, di akhir cawu tiga, aku berhasil mendapatkan juara satu di kelas. Ketika kakakku yang tadi merantau, tidak lama kemudian ia mengirim surat kepada kami, adik – adiknya. Ia meminta maaf kepada kami, karena ia dulu suka kasar kepada kami. Alhamdulillah, semoga Allah senantiasa melindunginya. Pada masa – masa  akhirku di SD, aku berhasil meraih juara satu, tapi sayang, tidak dapat piala, kan biasanya kalau juara satu dapat piala, tapi ini tidak. Yah, nggak papalah.

Pak, minta uang saku, mau pergi ke sekolah SMP.

Saat di SMP, aku sekolah sambil jualan rujak kedondong. Rujak itu dibuat oleh tetanggaku. Rumahnya berada di belakangnya rumah yang ada di sebelah barat rumahku. Tetanggaku itu adalah orang kaya. Rumahnya bagus sekali. Rujak yang aku bawa ke sekolah tadi, tidak aku titipkan ke kantin, tapi aku jual sendiri dikelas. Teman – teman membelinya langsung kepadaku. Bahkan seorang guru ekonomi pernah membeli lima bungkus. Senangnya, sambil sekolah aku juga bisa mencari uang saku sendiri. Aku dirumah juga diajari menjahit oleh kakakku yang bisa menjahit tadi. Jadi ketika ada seragam sekolah yang mau dijahitkan, aku ikut menjahitnya. Ketika di SMP ini, aku tidak menari lagi seperti dulu, ya karena aku sudah besar jadi malu.

Kelas tiga SMP, masanya akan segera untuk melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi. Aku bingung, aku harus melanjutkan ke SMA, SMK atau bekerja saja mencari uang. Pikiran itu sangat menggangguku. Tapi biarlah, itu dipikir nanti kalau sudah lulus, yang penting sekarang aku harus belajar biar dapat nilai bagus di akhir ujian nanti, dan Alhamdulillah, aku mendapatkan juara satu ketika lulusan, dan, tidak seperti di SD dulu, sekarang aku mendapatkan piala. Wow, senangnya. Sekarang sudah lulus, akhirnya aku memutuskan untuk melanjutkan ke SMA. Aku memilih ke SMA nomor satu di kabupatenku, SMA N 1 Sukoharjo, karena aku yakin aku bisa masuk kesana. Dan akhirnya saya diterima di sana.

Pak, sekarang SMAnya jauh, jadi uang sakunya ditambah ya, pak ?!

Sekolah SMAku itu jauh dari rumah, butuh oper kendaraan dua kali untuk sampai di sana. Karena jauhnya, aku sering terlambat di awal – awal aku masuk sekolah, jadi aku dikenal oleh guru BK karena itu (siswa telatan b-)). Jualan rujakku terus berlanjut. Aku membawanya ke sekolah, tapi kali ini aku menitipkannya ke koperasi, nanti pulang sekolah uangnya aku ambil. Selain itu, aku juga menjadi asisten guru computer yang mengajar di SMPku dulu. Aku sangat dekat dengannya. Ia masih muda, belum menikah, tapi sekarang aku tidak tahu ia dimana. Aku menjadi asisten mengajar computer tidak lama, karena guru yang muda tadi sudah diganti dengan orang lain, ya sudahlah.

Di SMAku ini, orang – orang pandai dari sekolah – sekolah SMP dari berbagai penjuru kecamatan banyak yang bersekolah di sini, jadi persaingan belajar semakin ketat. Aku tidak lagi masuk lima besar, tapi masih sepuluh besar.

Tidak seperti di SMP dulu, sekarang banyak organisasi atau ekstrakurikuler yang ada disekolah, aku ikut banyak sekali kegiatan, menjahit, karawitan, basket, PMR dan ROHIS aku ikut semuanya. Sampai di kelas dua, yang masih aku ikuti hanya PMR dan ROHIS saja. Di ROHIS inilah aku terdorong untuk belajar agama lebih giat dari pada dulu – dulu. Banyak sekali hal – hal yang aku dapatkan terkait dengan kritik atas perilakuku selama ini yang jauh dari ketaatan, semoga semakin hari aku semakin bertambah baik tingkah lakunya, aamiin J.

Akhir tahun SMA sudah dekat, kebingunganku ketika dulu di SMP muncul lagi, yaitu terkait dengan keberlanjutan pendidikanku ini. Aku harus melanjutkan ke mana? Karena SMA, ya mau tidak mau harus melanjutkan ke pendidikan tinggi. Aku mencari – cari sekolah yang biayanya murah, tidak lama tapi bisa langsung kerja. Tapi selain itu, sebenarnya aku juga ingin melanjutkan ke universitas biar bisa jadi sarjana. Dan, masalah yang dulu ada itupun tetap saja ada, yaitu masalah biaya. Sudahlah, itu dipikir nanti saja, yang penting niatnya dulu dan sekarang belajar yang rajin biar bisa lulus dengan nilai baik dan juga untuk persiapan kalau nanti ikut SPMB. Lalu, lulusnya aku dari SMA, mau melanjutkan ke mana?

Aku bertanya – tanya kepada mas – mas alumni dari sekolahku, “Mas, aku harus melanjutkan ke mana ya mas?” Tentu orang yang mendengar pertanyaan itu akan menjawab, “Ya terserah kamulah, masa tanya saya.”. Maka aku memutuskan untuk memilih pendidikan Matematika UNS sebagai pilihan keduanya, dan Teknik Informatika ITS sebagai pilihan pertamanya. Katanya terbentur masalah biaya kalau lanjut ke universitas? Memang benar, tapi aku mendapat semangat dari kakak kelas saya yang sudah kuliah di ITS Surabaya, bahwa ada beasiswa untuk anak tidak mampu untuk melanjutkan kuliah sampai tiga tahun. Beasiswa itu bernama Beastudi etos. Melihat persyaratannya yang penuh dengan kegiatan dan denda apabila melanggar peraturannya, aku sempat tidak ingin mengambilnya. Tapi dalam hatiku aku yakin, peraturan itu dibuat pasti demi kebaikan penerimanya. Maka saya daftar. Dan alhamdulillah, sebelum ujian SPMB, saya sudah lolos seleksi beastudi etos, maka langkah terakhir aku harus lulus SPMB dan harus diterima di ITS, karena itu adalah jurusan yang direkomendasikan oleh etos, jika tidak diterima disana maka aku tidak akan mendapatkan beasiswa dari etos.

Aku memohon kepada Allah, aku meminta restu ayah dan ibuku, semoga bisa lulus SPMB dan diterima di ITS. Sembari menunggu pengumuman SPMB, karena jaraknya satu bulan dari hari ujiannya, aku mendaftarkan diri di Sekolah Tinggi iIlmu Statistik (STIS), daftarnya di kantor Badan Pusat Statistik tingkat propinsi. Maka, aku bersama beberapa temanku pergi ke Semarang untuk daftar. Kami menginap di rumah saudara salah temanku yang ada di sana. Akhirnya tes pertama dilaksanakan. Dan Alhamdulillah, aku dan teman – temanku tadi lulus semua. Pada saat pendaftaran, kami berada di nomor pendaftaran yang urut, sehingga ketika ujian kami saling berdekatan. Akhirnya, ketika ujian, bekerja sama itu lebih baik daripada tidak bekerja sama, saling membantu🙂 .

Waktu ujian tahap kedua sudah ditentukan waktunya, yaitu bersamaan dengan pengumuman hasil SPMB, kami kembali lagi ke Semarang. Kali ini kami menginap di rumah saudara salah satu temanku yang berbeda dengan yang dulu. Kami tidak sabar untuk menanti hari esok. Kemudian tibalah saatnya hari yang dinantikan itu. Pagi – pagi sekali, kami keluar untuk membeli Koran, tapi mungkin karena kepagian, toko yang jualan Koran belum buka, sampai kami ke tempat ujian tahap dua STIS, yaitu di gedung KPU Semarang. Nah, di sana ternyata ada Koran yang kami cari – cari itu. Satu demi satu nama dan nomor ujian aku teliti. Pertama yang kau periksa adalah daftar nama yang diterima di pendidikan Matematika UNS, ternyata namaku tidak tertera di sana. Sabar. Kemudian aku periksa pada daftar nama yang diterima di T. Informatika ITS. Dan, hatiku begitu gembira, karena aku menemukan namaku disana, aku berteriak ditempat, Alhamdulillah, bersyukur kepada Allah, akhirnya aku mendapatkan beasiswa etos dan bisa melanjutkan kuliah.

Bersambung …

2 thoughts on “Triyono

  1. diatas langit masih ada langit..
    subhanallaah,, cuma itu yg bs terucap,,
    baru tahu cerita tentang dirimu,,
    semoga menjadi spirit bagi yang lainnya,,
    amiiin
    sekarang semuanya sdh terbayar, sepertinya..

  2. Betul, mbak. Tidak boleh berhenti untuk belajar, baik untuk ilmu pengetahuan maupun kebijaksanaan. Baru tahu sekarang ya? Wah, tega .. hehe … Saya senantiasa berharap semoga kita (khususnya saya) bisa memberikan kemanfaatan yang banyak buat sesama. Aamiiin. Utk yang terakhir, maksudnya gimana nih?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s